Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

SECERCAH LUKA TUMBUHKAN ASA




30 Agustus 2014. Tak terbesit dalam pikiranku kala itu. Masih kujalani hari seperti biasa penuh canda tawa seperti hari-hari sebelumnya, kuberanjak dari tempat tidur dan melakukan aktivitas seperti biasa. Salah satu aktivitas yang tak pernah luput yaitu bermain ke rumah nenek, “Dedek Apiiikkk” teriakku sesampai dirumah nenek, itu memang kata andalanku memulai aktivitas dirumah nenek. Dedek Apik adalah cucu nenek terakhir dari anak bungsunya. Walaupun dia keponakanku, aku sudah menganggapnya sebagai adik terakhirku dan bahkan kadang aku anggap sebagai anakku sendiri (sindrom usia matang.. hehe).
Memang hari itu tidak banyak kata perpisahan karena aku berpikir kita tidak akan berpisah tapi hanya tidak berjumpa dalam waktu yang tidak terlalu lama. Ahhh siapa bilang tidak lama, satu tahun tidak bertemu itu sudah cukup lama bagiku. Apalagi harus berpisah sementara dengan adik kecil yang selalu membuatku tersenyum dan membuatku selalu merasa muda itu.
Tiiit,,tiiit.. bunyi hp jadulku menerima pesan dari seorang sahabat di jogja. Dalam pesan itu tertulis “Mbak, hari ini aku pulang, kalau jadi nginep nanti habis Isya’ aku sampai kost”. Hemm, ini tandanya sore ini aku harus sudah berangkat ke jogja (maklumlah jarak jogja dengan rumahku lumayan jauh). Aku putuskan berangkat dari rumah habis maghrib biar perjalanannya lebih santai gitu.
Karena kebiasaan air dirumahku setiap sore mati, maka aku putuskan mandi di rumah nenek sekalian minta doa dan restu demi kelancaran dan keselamatan dalam perjalanan dan tujuan. “dedek Apik sayaaang, kakak berangkat dulu yaaa” kucium pipi kiri, kanan dan keningnya sambil menahan jatuhnya air mata ini. Memang terasa berat ketika meninggalkan seseorang yang sangat disayang. Adik yang lucu, imut , dan mengemaskan itu. *teringat waktu itu, ketika aku selesai melaksanakan Pra Kondisi SM3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal) di AAU (Akademi Angkatan Udara)  Yogyakarta selama 12 hari, kutemui dedek tersayangku itu, aku buka pintu sambil menatap wajahnya yang Nampak terkejut itu, aku dekati berlahan dan ku gendong. dia masih menatap tajam , tiba-tiba dia tersenyum seraya tertawa sembari menciumi pipi kanan dan kiri ku. Mungkin memang dia merindukan aku seperti aku merindukannya.
Selesai mandi aku berpamitan dengan mereka,kucium tangan dan pipi nenekku yang berusia lebih dari 70 tahun itu, nenek yang tidak pernah lelah, nenek yang mendidik, nenek yang mengasuh dan nenek yang membesarkanku.  aku merasakan betapa mereka berat merelakan kepergianku begitupun diriku yang tak kuasa meninggalkan mereka. ku tahu air mata hampir menetes di pipi mereka, namun ku tinggalkan senyumku disana untuk menyakinkan mereka bahwa aku akan baik-baik saja.
Tepat jam 18.45 kami berempat berangkat, aku, Yeyen        kakak Apik yang sengaja kuminta tolong untuk menemani, Yanis         adikku, dan Ayah. Kami pergi dengan menggunakan sepeda motor, sengaja sih karena aku sering mual kalau harus naik mobil. Aku berboncengan dengan Yeyen dan Ayah dengan Yanis. Perasaanku kala itu memang kurang nyaman, entah kenapa rasanya memang berat meninggalkan keluarga yang begitu disayang selama setahun.  Tapi ini tugas negara, salah satu perwujudan cita-cita bangsa untuk mencerdaskan seluruh rakyat Indonesia. Melalui program SM3T ini aku berharap ilmu yang selama ini aku cari dan aku dapatkan bisa bermanfaat bagi orang lain.
Dalam perjalanan kurasakan ketidaknyamanan, entah kenapa, kulihat jalan begitu padat dan kurang terarah. Ayah dan Yanis berkali-kali tertinggal jauh dibelakang, mungkin karena bawaannya terlalu banyak ( koper dan handbag ku). Kucoba mengurangi kecepatan agar kita bisa jalan beriringan.berkilo-kilo meter telah terlalui, sesampainya di Klaten, aku dan Yeyen berada di belakang mereka, berharap mereka tidak tertinggal lagi. Hingga di beberapa lampu merah kita bisa sampai bersama. Di lampu merah yang terakhir ( bukan akhir perjalanan tapi terakhir aku mengendarai sepeda motor) aku masih berbincang dengan Yeyen *masih berpikir positif.
Lampu hijau dan akupun mulai jalan di belakang sepeda Ayah, tiba-tiba Yeyen berkata “Mbak, nampaknya ada hewan yang menempel di kakiku”, belum sempat aku menjawab Yeyen kembali mengatakan, “Tapi ngak apa-apa, aku kan sudah memakai kaos kaki”. Hemmm, seketika aku berpikir,hewan apa kiranya yang ada di kakinya jangan-jangan kalajenking. Jadi kepikiran juga. Belum selesai aku berpikir tiba-tiba ada mobil yang mengiringi sepedaku. Dan ternyata tidak cuma mengiringi sepedaku ternyata badan mobil itu menyeret stang sepedaku. Seketika sepedaku terjatuh dan terseret bermeter-meter.
Astaghfirullah hal’adziim, Astaghfirullah hal’adziim, Astaghfirullah hal’adziim, begitulah kalimat yang terus kuucapkan dalam batinku. Aku terkapar tak berdaya di tengah jalan raya kota yang penuh lalu lalang sepeda motor dan mobil itu. Jalan yang cukup sempit untuk dilalui dua jalur. Wajar saja jalan itu memang kalau siang digunakan untuk satu jalur.
Dalam keadaan yang tak berdaya itu kudengar suara tangisan menderu-deru dari belakang, sekilas nampak di depanku darah merah pekat bercucuran di atas aspal hitam itu. Tanyaku dalam hati “Darah siapa ini yang jatuh tepat di bawah stang motor ku?”. Jangan- jangan Yeyen, betapa menyesal dan paniknya diri ini jika terjadi sesuatu dengan adikku yang manja satu ini,
Perasaan yang luar biasa dan tak pernah terbayangkan ini membuatku terdiam dan hanya mengingat satu nama “Allah”. “Ampuni aku Yaa Allah”, begitu kalimat yang terus terucap, hingga datanglah sekerumunan orang yang berusaha menolong kami, dibangunkan  kami dan mengiringnya ke pinggir jalan. Masih ku dengar suara tangis itu “Mbaakk, Mbaakk, sakiitt” keluhnya sambil menahan luka yang dialaminya. Aku msih terdiam sambil melihat darah yang ada di bawah stang motor itu, sesekali kulihat jari ku yang masih terbungkus sarung tangan. Dan nampak sarung bagian tengah robek dan berlumuran darah “ Yaa Allah apa yang akan terjadi dengan tangan ini? Mungkinkan aku harus kehilangan jari tengahku, dapatkah luka ini sembuh? Mungkinkah aku melanjutkan perjalanan?. Begitu banyak pertanyaan yang ada dibenakku kucoba gerakkan berlahan jari tengah yang bengkak dan berlumur darah itu. “Alahamdulillaah msih bisa bergerak” batinku, walaupun aku tau belum tentu itu akan sembuh dengan cepat, tapi setidaknya masih ada syaraf pengerak di jariku.
“Yen, kamu ngak apa-apa? Jangan panik” kucoba menenangkan Yeyen yang dari awal sudah menanggis. Kulihat celana, kaos kaki dan jaketnya robek,, benar-benar kejadian diluar kendaliku. Tak seorangpun beani menyentuh luka kami, mereka masih menunggu bantuan datang. Aku pun menjadi sedikit cemas, bagaimana bisa jari yang sudah mengeluarkan cukup banyak darah didiamkan begitu lama.
Sesaat tibalah, seorang pemuda  yang menanyakan keadaan kami, aku langsung minta tolong untuk segera dibawa ke dokter agar luka ini segera mendapat tindakan medis. Dan ternyata pemuda itu memang pemilik mobil warna biru yang menyeret sepeda kami. Alhamdulillaah mau tanggung jawab *sebelumya pernah terserempet juga tapi pelaku kabur, untung waktu itu cuma spion yang hancur, hiks.
Pemuda itu terlihat cukup panik, maklum dia masih remaja, sesaat ibunya datang. Kami berdua dibawa ke rumah sakit dan ibunya mengendarai sepeda motorku *berarti sepeda motornya masih aman.(Hehe). Di dalam mobil Yeyen terus saja menanggis, wajar juga mungkin dia shock apalagi perjalanan tadi benar-benar menguras tenaga dan waktu. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, hanya syukur yang ada di hati dan pikiranku. Bagaimana tidak dalam kecelakaan yang begitu tiba-tiba dan di area traffic light aku dan adikku bisa selamat dari maut, dan bahkan luka yang kita alami tidak separah kecelakaan-kecelakaan yang pernah terjadi.
Rumah sakit??? Salah satu tempat yang selalu aku hindari, bukan karena tidak suka obat atau takut disuntik, tapi memang aku selalu berdoa supaya diberikan kesehatan . itu merupkan pertama kalinya aku masuk rumah sakit dengan status sebagai pasien. “Dibersihkan lukanya dulu ya?” kata perawat yang hendak menangganiku. Aku pun tak menjawab, tentu saja tanpa ditanya aku pasti menyetujuinya. Terdengar jeritan disampingku, lagi-lagi Yeyen berteriak kesakitan. “Tenang- tenang –tenang” batinku. “Dijahit ya mbk?, “Apaaaa???? Sambil mengangguk ku tutup mata ku dengan telapak tangan kiri “Allahu Akbar, Allahu Akbar” begitulah doa yang aku panjatkan selama proses perawatan. Masih terasa ada sebagian kulit jari ku yang di gunting, walaupun sebelumnya sudah di suntik dengan obat bius “Bismillaahirrohmanirrohiim”.
Bagaimana bisa aku melanjutkan perjalanan dengan keadaan yang seperti ini, nampaknya amat berat malanjutkan perjalanan yang terlihat gelap dan tak terarah ini. “Tenang mbak nanti saya antar, saya akan tanggung jawab” ucap pemuda yang dari tadi panic menunggu proses perawatanku dan Yeyen tadi. “Iya, terima kasih” sahutku. Tiba-tiba ibunya yang baru datang itu tak bersedia mengantarkanku sampai UNY, dalihnya kita sama-sama salah dan ibu tersebut punya anak kecil yang tidak bisa ditinggal lama. Bagaimana bisa begitu, tanganku sudah terlanjur luka dan Yeyen pun tergores cukup parah di kaki dan tangannya. Kami berempat berdiskusi cukup lama, sampai akhirnya pemuda itu bersedia mengantarkan menggunakan sepeda motor yang hendak diambil ke rumah dulu, “Ahh, terserah mereka mau bagaimana, yang penting aku bisa sampai UNY secepatnya sehingga besuk pagi bisa terbang.
Ketika mereka hendak menuju pintu keluar, tiba-tiba Ayah dan Yanis datang dengan mebawa koper dan handbag ku, sambil tersenyum mereka saling salaman dan menanyakan keadaan kami. Tak disangka ibu yang tadinya bersikukuh tak bersedia mengantar, tiba-tiba berubah sikap, dan langsung berkata bahwa “Akan kami antar putra Bapak sampai tujuan, maafkan kami pak”. Wah, ini benar-benar kurang beres pikirku, bagaimana bisa orang bisa berubah pikiran 180 derajat dalam waktu yang begitu singkat, atau bisa jadi karena Ayah pakai jaket TNI ya. Hehe.
Sembari kupersiapkan barang-barang masuk ke mobil aku berpamitan dengan mereka (Ayah, Yanis dan Yeyen), tak lupa ku peluk mereka sambil ku ucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Kala itu aku benar-benar merasa bersalah, terutama pada Yeyen si anak manja. Hehe. Bagaimana tidak,Yeyen yang sering diperlakukan lembut itu harus mengalami kejadian yang membuat shock dan menimbulkan luka yang cukup parah.
Diantarlah aku dengan mobil yang sempat membuatku hampir kehilangan nyawa itu, menyusuri jalan Klaten-Jogja yang cukup lama. Awalnya aku masih tegar menghadapi semua itu, bahkan sakit yang aku rasakan karena luka jahitan itu tidak cukup ampuh untuk membuatku menanggis. Tapi entah kenapa, baru berapa meter menempuh perjalanan air mata ku mengucur begitu deras, bahkan aku tak kuasa membendungnya. Bisa jadi kala itu sakit baru terasa, sakit??? Iya sakit, sakit bukan karena luka tetapi sakit karena harus meninggalkan mereka yang sangat aku sayangi, sakit karena kepergianku harus diakhiri dengan kecelakaan, sakit karena dalam waktu sekurangnya satu tahun aku tidak bisa berkumpul dengan mereka yang selalu meberikan senyum dan tawa dalam keluarga.
Aku sangat mencintai keluargaku, entah apapun yang terjadi, keluarga adalah yang utama, demi mereka aku rela sakit, demi mereka aku rela berkorban dan demi mereka pula aku akan kuat menghadapi cobaan yang datang. Sebisa mungkin akan aku lindungi kehormatan dan nama baik mereka dimana pun aku berada.
Dari sinilah aku mulai perjuangan ini, secercah luka yang akan membawaku  menuju dunia baru, dunia yang belum pernah aku temui, dunia yang akan aku perjuangankan untuk membangun insan Indonesia. Ya, aku akan terus maju menghadapinya. Demi generasi penerus bangsa, aku tidak boleh putus asa walaupun luka masih ada, Di tempat inilah akan aku abdikan satu tahunku untuk terus “Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia”.

Aceh Tenggara 11 September 2014

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar